Danau Situ Bagendit Garut

Danau Situ Bagendit Garut

Mitos dipercaya sebagai ajaran dari nenek moyang. Mitos-mitos ini berkembang sejak dulu sebagai upaya manusia untuk menjawab pertanyaan mengenai rahasia alam, misalnya asal usul manusia, asal mula terbentuknya gunung, lautan dan sebagainya. Di daerah perkotaan mitos sudah mulai tidak dianggap, tetapi di daerah pedesaan masih banyak yang menganggap mitos adalah benar, walaupun secara logika tidak masuk akal. Mitos tersebut kadang memiliki jalan cerita yang sedikit berbeda, tergantung daerah tempatnya berkembang, tetapi secara garis besar mempunyai inti, makna dan pesan yang sama.

Garut adalah salah satu daerah di Jawa Barat. Merupakan daerah yang subur dan memiliki banyak tempat wisata. Salah satunya adalah danau Situ bagendit. Konon menurut cerita yang berdar di sekitar masyarakat sekitar ada sebuah mitos yang menceritakan tentang asal mula terbentuknya danau ini.

Danau Situ Bagendit

Pada jaman dahulu kala, di sebelah utara kota Garut terdapat sebuah desa kecil yang kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai petani. Desa tersebut sangat indah dan subur, akan tetapi penduduknya tetap miskin dan kekurangan. Di desa itu juga, ada seorang perempuan kaya bernama Nyai Endit.

Nyai Endit sangatlah tamak, ia sangat licik. Setiap musim panen Nyai Endit selalu bergegas untuk membeli semua padi yang ada dan kemudian menyimpannya. Ketika semua persediaan beras milik warga desa telah habis, ia kemudian menjual beras tersebut dengan harga yang mahal sampai lima kali lipat. Hal ini lah yang menyebabkan warga desa menjadi kesulitan ekonomi. Sementara warga desa kesusahan kehabisan bahan makanan, Nyaindit dan para bawahannya berpesta pora di rumahnya yang besar.

Pada suatu hari, datangah seorang nenek tua ke desa itu. Ia menanyakan rumah Nyai Endit kepada salah seorang warga. Ketika ditanyakan maksudnya berkunjung ke rumah Nyai Endit, ia mengatakan bahwa ia ingin meminta sedekah kepada Nyai Endit. Orang yang ditanyainya pun memperlihatkan mimik wajah prihatin dan segera menasehati nenek tua tersebut untuk mengurungkan niatnya dan mengajak nenek tersebut makan di rumahnya. Tetapi si nenek menolak dan tetap berkeras untuk pergi ke rumah Nyai Endit. Ia hanya memperingatkan warga desa untuk segera mengungsi karena akan ada banjir besar.

Nyai Endit terkejut ketika melihat seorang nenek tua berdiri di depan rumahnya meminta sedekah. Ia kemudian menghardik nenek tersebut dan mengusirnya dari rumahnya. Sang nenek murka dan mengutuk Nyai Endit. Ia kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah dan berkata bahwa ia adalah jawaban atas doa warga desa karena kekikiran Nyai Endit. Ketika diusir pergi, nenek tua itu malah menantang untuk mencabut tongkatnya yang tertancap di tanah, dengan begitu ia akan langsung pergi. Nyai Endit pun menyuruh bawahannya untuk mencabut tongkat tersebut dengan sombongnya. Akan tetapi, ketika tongkat tersebut tercabut dari tanah, munculah semburan air yang sangat deras. Nyai Endit serta para bawahannya pun tenggelam ketika mencoba menyelamatkan harta bendanya.

Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.

Secara logika cerita di atas sangatlah tidak mungkin. Cerita tersebut hanya di buat oleh para nenek moyang sebagai penjelasan terhadap peristiwa alam yang tidak mereka mengerti. Beberapa tahun yang lalu ilmu pengetahuan belum berkembang dan maju seperti saat ini. Jadi tidak ada penjelasan yang ilmiah mengenai apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan danau tersebut terjadi. Karena hal tersebut, maka orang jaman dulu menciptakan cerita-cerita yang berhubungan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mereka pahami.

Kota Garut berada di daerah Jawa Barat yang merupakan daerah yang rendah dan dikelilingi oleh gunung dan perbukitan. Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit. Di antara gunung-gunung di Garut adalah: Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), keduanya terletak di perbatasan dengan Kabupaten Bandung, serta Gunung Cikuray (2.821 m) di selatan kota Garut.

Rangkaian pegunungan vulkanik yang mengelilingi dataran antar gunung Garut Utara umurnya memiliki lereng dengan kemiringin 30-45% disekitar puncak, 15-30% di bagian tengah, dan 10-15% di bagian kaki lereng pegunungan. Lereng gunung tersebut umumnya ditutupi vegetasi cukup lebat karena sebagian diantaranya merupakan kawasan konservasi alam. Wilayah Kabupaten Garut mempunyai kemiringan lereng yang bervariasi antara 0-40%, diantaranya sebesar 71,42% atau 218.924 Ha berada pada tingkat kemiringan antara 8-25%. Luas daerah landai dengan tingkat kemiringan dibawah 3% mencapai 29.033 Ha atau 9,47%; wilayah dengan tingkat kemiringan sampai dengan 8% mencakup areal seluas 79.214 Ha atau 25,84%; luas areal dengan tingkat kemiringan sampai 15% mencapai 62.975 Ha atau 20,55% wilayah dengan tingkat kemiringan sampai dengan 40% mencapai luas areal 7.550 Ha atau sekitar 2.46%. Jadi banyak terdapat lembah-lembah yang landai dan dalam.

Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapat dikatagorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Berdasarkan data, iklim dan cuaca di daerah Kabupaten Garut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattern), topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat, dan elevasi topografi di Bandung. Curah hujan rata-rata tahunan di sekitar Garut berkisar antara 2.589 mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3500-4000 mm. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24 °C – 27 °C.

Hal ini menyebabkan kota Garut mempunyai curah hujan yang tinggi, dan hujan cukup sering terjadi di kota ini. Temperatur kota Garut pun termasuk rendah jika dibandingkan dengan kota lainnya di Jawal Barat. Tidak heran jika pada daerah yang rendah seperti lembah tersebut berubah menjadi danau kecil atau telaga karena hujan sangat sering terjadi di kota Garut, apalagi pada saat musim hujan.

air yang terkumpul sedikit demi sedikit pada lembah tersebut kemudian terkumpul karena seringnya terjadi hujan di kota ini. Akibatknya cekungan alam tersebut berubah menjadi genangan air yang semakin lama semakin besar sehingga membentuk danau kecil atau telaga. Hal ini merupakan penjelasan yang logis untuk terjadinya danau Ditu Bagendit yang berada di Garut. Karena dapat dijelaskan secara logika. (farra)

Sumber:

http://www.treklens.com/gallery/photo394613.htm

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4417197

http://pbsindonesia.fkip-uninus.org/media.php?module=detailmateri&id=72

http://historyology.blogspot.com/2010/01/legenda-situ-bagendit.html

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: