Kekuasaan dan Kekerasan

Kekuasaan dan Kekerasan

Berbagai macam jenis kekerasan yang terjadi di sekitar kita belakangan ini sungguh memprihatinkan. Kekerasan demi kekerasan yang terjadi silih berganti cukup menimbulkan kerisauan. Belum lagi selesai ditangani dengan tuntas, telah ada bentuk kekerasan lain yang terjadi. Bahkan sampai ada yang berjarak hanya beberapa jam saja. Kekerasan yang terjadi terus membuat resah, karena beberapa kekerasan tersebut berakar dari permasalahan yang sama.

Sebenarnya bentuk kekerasan yang terjadi ada yang berasal dari bentuk kekerasan sebelumnya. Sebagai contoh, kasus tentang terorisme tidak pernah habis untuk dibahas dan selalu berkelanjutan. Selalu saja akan ada teror-teror selanjutnya yang lahir dari dari serangan teroris yang pertama. Contoh lainnya adalah kejahatan primordialisme kesukuan, pada awalnya konflik terjadi hanya antara dua orang saja dari suku yang berbeda, kemudian konflik itu membesar dan melibatkan hampir semua anggota suku.

Kekerasan, bagaimanapun, tidak bisa berkembang hingga menjadi begitu besar dan panjang dengan sendirinya. Reproduksi kekerasan menjadi berkembang biak hingga panjang dan tidak berujung didalangi oleh kekuasaan sebagai sumber kekuatan utama.

Kekerasan dan kekuasaan tidak bisa dipisahkan, mereka telah menjadi seperti kembar identik, dimana ada yang satu, pasti ada yang lainnya, kapan saja dan dimana saja.

Ada empat macam jenis kekuasaan yang berkaitan dengan kekerasan. Pertama, kekuasaan dalam konteks politik kenegaraan. Konteks kekuasaan ini ada dan merata dan bisa ditemukan pada lembaga-lembaga yang mempunyai akses hukum yang kuat.

Pola kekuasaan politik kenegaraan ini seperti piramida. Dimana pada posisi paling rendah sangant banyak melibatkan orang banyak, dan pada posisi paling atas semakin mengerucut dan hanya dipegang oleh satu orang, yaitu kepala negara. Akan tetapi, berbeda dengan pola kekuasaan politik kenegaraan, secara fungsional kekuasaan itu menjadi seperti piramida terbalik. Dimana pada posisi terendah yang melibatkan banyak orang, tetapi memiliki fungsi kekuasaan yang paling sedikit, sedangkan pada posisi puncak, yang hanya dipegang oleh satu orang, mempunyai fungsi kekuasaan paling besar.

Kedua, kekuasaan normatif yang bersifat keagamaan. Artinya landasan kekuasaan ini adalah agama dan kepercayaan. Kekuasaan ini lebih kuat dan lebih totaliter daripada kekuasaan politik kenegaraan, karena menyangkut keyakinan dan kepercayaan masing-masing orang. Tetapi secara pola dan fungsional, bentuknya tidak jauh berbeda dengan kekuasaan politik kenegaraan.

Tetapi di masa sekarang, kuantitas kekuasaan normatif keagamaan sudah banyak berkurang. Hal ini disebabkan telah banyak orang yang meninggalkan normatif keagamaan mereka, dan merasa tidak ada kewajiban untuk memperhatikannya. Berbeda jika dilihat secara kualitas, justru kualitas kekuasaan normatif beragama tidak berkurang sedikitpun. Kekuasaan ini bahkan membuat mereka rela untuk melakukan apapun demi norma yang mereka yakini.

Ketiga, kekuasaan primordial kesukuan. Tidak berbeda jauh dengan kekuasaan normatif keagamaan, nasib yang dialami oleh kekuasaan primordial kesukuan juga mengalami hal yang sama, kuantitasnya semakin berkurang, tetapi nilai-nilainya tetap tidak berubah dan termodifikasi.

Keempat, kekuasaan media. Kekuasaan media sangat besar, bahkan paling besar diantara yang lainnya. Hal ini disebabkan kekuasaan media lebih tersebar merata sehingga semua lapisan masyarakat dapat terjangkau.

Empat jenis kekuasaan tersebut tak jarang menimbulkan reproduksi kejahatan-kejahatan yang terjadi selama ini. Sebagai contoh, kekuasaan politik kenegaraan seringkali digunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu, sehingga tak jarang demonstrasi pun terjadi, yang malah dibalas dengan menggelar aksi demonstrasi lainnya yang berkelanjutan. Contoh lainnya dengan kekuasaan normatif keagaaman dan primordial kesukuan. dua jenis kekuasaan ini tak jarang juga memicu kekerasan yang terjadi dan ikut berperan serta atas kekerasan-kekerasan yang terjadi sesudahnya. Apalagi jika ditambah dengan peran media yang memberitakan secara besar-besaran akan menambah konflik yang terjadi.

Sumber utama dari persoalan yang sedang terjadi ini adalah kekerasan dan reproduksinya yang didukung oleh kekuasaan yang ada. Kekerasan dan konflik adalah hal wajar yang bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. Tetapi kekerasan tersebut tidak akan semakin besar dan rumit jika tidak ditambahkan bumbu kekuasaan di dalamnya, karena akan memicunkekekrasan-kekerasan lainnya.

Penghentiannya bisa dilakukan dengan mengubah peran serta kekuasaan di dalam kekerasan. Tidak lagi hanya untuk menjadi pencipta kekerasan, tetapi menjadi pencipta kedamaian, khususnya pada para pemimpin-pemimpin yang mempunyai kekuasaan. Sehingga kekeuasaan tidak dimanfaatkan untuk menciptakan kekerasan baru. (fara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: