Museum Geologi, Ladang Ilmu Pengetahuan

Museum Geologi, Ladang Ilmu Pengetahuan

Panas terik matahari jam 11.00 WIB sepertinya tidak mengganggu kesibukan dan lalu lintas yang terjadi di sepanjang Jalan Diponegoro, Bandung. Kendaraan-kendaraan yang lalu lalang sepertinyasudah terbuasa dengan terik matahari yang cukup menyengat. Disebuah sisi jalan nampak sesuatu yang janggal untuk dilihat pada sebuah jalan protokol Kota Bandung. Bus-bus besar berjejer parikir di sepanjang jalan yang cukup panjang, dan tampaknya tidak ada orang yang terganggu akan kehadiran bus-bus yang memenuhi setengah jalan protokol di Kota Bandung, seakan-akan hal ini merupakan fenomena yang sudah biasa terjadi dan sangat membuang tenaga jika harus merasa heran.

Tampak depan Museum Geologi

Bus-bus tersebut berhenti di sekitar sebuah gedung yang cukup besar. Di halaman gedung tersebut tidak kalah ramainya dengan keadaan lalu lintas di jalanan. Mereka bertujuan untuk mengunjungi Museum Geologi Bandung yang berada di Jalan Diponegoro nomor 57, Bandung ini. Halaman gedung ini tampak ramai sekali oleh para siswa-siswa SD, SMP, dan SMA, bahkan beberapa tampak masyarakat umum yang sedang berteduh di bawah pepohonan rindang yang ada di taman gedung Museum Geologi. Tidak hanya halaman museum saja yang dibanjiri oleh para pengunjung, tetapi di dalam gedung museum sendiri juga tidak kalah dipenuhi oleh kelompok-kelompok besar pengunjung yang kebanyakan berasal dari siswa-siswa SD, SMP, ataupun SMA. Mereka datang dengan tujuan untuk melihat berbagai koleksi geologi dan pertambangan yang dapat dikatakan terlengkap di Asia.

Awal Mula Museum Geologi

Gedung yang sekarang digunakan sebagai Museum Geologi ini awalnya merupakan sebuah gedung yang berfungsi sebagai kantor yang dilengkapi dengan laboratorium geologi dan museum hasil survey geologi. Gedung yang diresmikan pada Mei 1929 ini dahulunya sempat menjadi markas angkatan udara pemerintah kolonial Belanda ketika perang dunia ke II sedang berkecamuk pada tahun 1941. Sedangkan seluruh barang-barang yang awalnya berada di dalam museum dipindahkan ke Gedung Pensioen Fonds (sekarang Gedung Dwiwarna). Hal ini berakibat buruk pada inventaris museum, banyak barang-barang koleksi museum yang hilang dan rusak.

Akhirnya pada pamerintahan Jepang di tahun 1942 fungsi Gedung Geologi dikembalikan kembali dari sebuah markas angkatan udara menjadi sebuah museum. Tetapi fungsi museum ini belum maksimal sampai menjelang kemerdekaan serta beberapa tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Pengelolaan yang jelas dan teratur mulai dilakukan oada 22 Februaru 1952 ketika pemerintah Indonesia telah membentuk Jawatan Geologi.

Empat puluh enam tahun setelah adanya pengelolaan yang jelas terhadap Museum Geologi, diadakan penataan kembali dan renovasi Museum Geologi secara menyeluruh. Hingga pada akhirnya Museum Geologi di buka kembali pada tanggal 22 Agustus 2000 oleh wakil presiden pada saat itu, Megawati Soekarno Putri.

Koleksi Geologi dan Pertambangan

Gedung yang cukup kuno ini diisi oleh berbagai benda geologi dan pertambangan yang bisa dikatakan lengkap. Pada Museum Geologi terdapat koleksi fosil-fosil makhluk hidup dari zaman dahulu. Selain fosil mahkhluk hidup, juga terdapat berbagai macam batu mineral yang beraneka ragam dan jenis yang bentuk dan warnanya bermacam-macam. Selain koleksi batu mineral, juga terdapat informasi-informasi mengenai potensi mineral yang ada di Indonesia.

Beberapa koleksi batu mineral

Berbagai koleksi barang-barang tersebut juga dilengkapi dengan pengetahuan-pengetahuan yang mendukung, seperti sejarah bumi tercipta dan terbentuk hingga sampai saat ini. Cara penginformasian yang menarik melalui maket-maket bentuk bumi serta video yang juga tak kalah menariknya dengan maket yang ada. Selain pengetahuan tentang sejarah bumi dan alam semesta, ada juga pengetahuan mengenai gunung berapi dan gempa hingga tsunami, yang juga dilengkapi dengan maket, gambar dan video yang sama menariknya.

Di lantai atas museum lebih dikhususkan pada bagian pertambangan dan hasil tambang, sementara di lantai bawah dikhususkan untuk bagian mineral, fosil, serta sejarah. Di bagian atas terdapat maket pertambangan lepas pantai Pertamina, serta pertambangan di daerah pegunungan. Selain itu juga dipamerkan berbagai hasil olahan pertambangan minyak bumi yang ada seperti aspal, premium, solar, minyak tanah, lilin dan masih banyak yang lainnya. Di lantai atas juga dipamerkan berbagai perkembangan alat-alat yang digunakan oleh nenek moyang manusia pada zaman dahulu. Tetapi sayangnya masih banyak ruangan kosong yang belum digunakan secara maksimal.

Miniatur pertambangan

Museum ini juga dilengkapi dengan ruang audio visual yang digunakan untuk memutar film ilmu pengetahuan. Tetapi biasanya pemutaran film ini disesuaikan dengan jadwal dan melihat jumlah pengunjung yang datang. Bisanya para rombongan pengunjung yang mengajukan permintaan untuk menonton film di ruang audio visual.

Untuk koleksi Museum Geologi biasanya merupakan sumbangan-sumbangan dari berbagai hasil penelitian dan penggalian yang dilakukan. Karena penelitian yang dilakukan rutin setiap tahunnya, dan tak jarang yang tidak menemukan hasil. Tetapi tak menutup kemungkinan benda yang disumbangkan tersebut tidak dipajangkan dan hanya di simpan saja karena sudah ada benda sejenis yang serupa. Misalnya saja pihak museum mempunyai banyak sekali fosil gigi gajah, dan hanya beberapa saja yang dipamerkan di museum.

Koleksi unggulan yang menjadi kebanggaan Museum Geologi adalah fosil manusia purba Homo erectus yang sangat langka, serta fosil gajah purba Stegodong trigonocephalus. Tetapi yang paling menarik adalah replika fosil dinosaurus karnivora terbesar dan terganas yang pernah ada yaitu Tyrannosaurus rex atau biasa disebut T-rex. Inilah yang menjadi daya tarik oleh beberapa pengunjung yang datang ke Museum Geologi.

Fosil gajah purba Stegodong trigonocephalus

Replika fosil Tyrannosaurus rex

Animo Masyarakat

Museum Geologi yang mempunyai visi “Terwujudnya sumber informasi geologi (dokumen koleksi – warisan geologi Indonesia) yang professional untuk masyarakat” ternyata telah mewujudkan visinya melalui misi-misi yang sangat melayani pengujungnya. Dibuktikan dari banyaknya pengunjung yang dating silih berganti mengunjungi Museum Geologi dengan berbagai tujuan. Bukan hal yang bohong jika dikatakan Museum Geologi mempunyai banyak pengunjung, dari kurva statistik data pengunjung nampak sebuah kurva positif yang menjulang naik ke atas. Sungguh merupakan sebuah prestasi bagi sebuah museum.

Salah satu faktor yang bisa diasumsikan mempengaruhi banyaknya pengunjung yang datang ke Museum Geologi ini yaitu tidak dipungutnya biaya untuk masuk ke dalam museum.  Menurut salah seorang pemandu di museum, Asri, pembebasan biaya masuk ke Museum Geologi dilakukan pada bulan Agustus 2006 atas kebijakan kepala museum. Museum Geologi sendiri berada dibawah Kementrian Energi dan Sumber Daya Manusia sehingga seluruh dana yang dibutuhkan oleh Museum Geologi berasal dari kementrian. Karena pertimbangan-pertimbangan itulah biaya masuk museum yang dulunya berkisar antara Rp2.000,00 sampai Rp5.000,00 pada saat ini ditiadakan.

Museum Geologi yang dibuka dari hari Sabtu hingga hari Kamis ini selalu dipadati oleh pengunjung setiap harinya. Berbagai macam rombongan dari berbagai daerah datang dan pergi secara bergantian. Walaupun museum ini hanya dibuka dari jam 09.00 – 15.30 WIB pada hari kerja dan sampai jam 13.00 pada hari Sabtu dan Minggu, tetapi tidak mengurangi jumlah pengunjung yang antusias untuk berdatangan ke Museum Geologi. Sepinya pengunjung hanya terlihat ketika sedang memasuki bulan Ramadhan bagi umat muslim, dapat dilihat penurunan jumlah pengunjung yang datang.

Pengunjung yang datang ke Museum Geologi dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu dari kalangan pelajar dan mahasiswa dan dari masyarakat umum. Kebanyakan rombongan yang datang berasal dari siswa-siswa SD, SMP, dan SMA dari Kota Bandung dan sekitarnya. Walaupun begitu tidak sedikit rombongan pelajar tersebut yang berasal dari luar Kota Bandung, misalnya Jakarta dan Bekasi. Hal ini disebabkan Museum Geologi Bandung merupakan satu-satunya museum yang berbasis geologi di Indonesia.

Biasanya rombongan-rombongan pelajar yang datang terdiri dari seratus sampai tiga ratus orang. Untuk rombongan seperti ini pihak Museum Geologi menyediakan pemandu-pemandu untuk memberikan informasi-informasi tambahan seputar museum. Asri sendiri, yang sudah tiga tahun menjadi seorang pemandu, pernah memandu sebuah rombongan yang jumlahnya hampir mencapai tiga ratus orang. Rombongan-rombongan ini biasanya menghubungi pihak museum terlebih dahulu ketika ingin berkunjung ke Museum Geologi, karena banyaknya pihak-pihak lain yang juga ingin berkunjung ke Museum Geologi dalam jumlah yang besar.

Rombongan pelajar yang berkunjung ke Museum Geologi

Untuk pengunjung yang merupakan mahasiswa yang konsentrasinya adalah ilmu pertambangan dan geologi biasanya mereka langsung mendatangi kantor museum dan laboratorium penelitian yang ada di bagian belakan gedung museum.

Salah satu misi museum geologi dalam menyediakan informasi dan materi edukasi geologi sepertinya telah terlaksana dengan baik dengan banyaknya pengunjung yang datang serta minat mereka untuk mengetahui sejarah-sejarah bumi dan manusia. Tak jarang beberapa orang pengunjung mengajukan pertanyaan tambahan mengenai barang-barang yang ada di Museum Geologi kepada para pemandu. Pertanyaan datang paling banyak dari para pelajar yang mengunjungi museum, mereka acap kali menanyakan pertanyaan baru selain pertanyaan yang telah di tugaskan oleh guru mereka yang berkenaan dengan hal-hal aneh dan unik yang ada di Museum Geologi.

Besarnya antusiasme yang ditunjukkan pengunjung Museum Geologi dari banyaknya kritik dan saran yang diberikan. Tak jarang para pengunjung menanyakan dimana harus memberikan kertas kritik dan saran, sampai ada pengunjung yang sangat bersemangat untuk memberikan aspirasinya kepada Museum Geologi dengan menulis sendiri kritik dan saran dengan bersusah-susah untuk menggunakan kertasnya sendiri.

Masyarakat yang berdomisili di sekitar Museum Geologi pun tidak kalah antusias dengan keberadaan museum ini. biasanya mereka datang pada hari Minggu dimana banyak keluarga-keluarga yang datang dengan tujuan rekreasi. Tak jarang mereka datang dan bertanya mengenai barang-barang yang ada di museum.

Harapan untuk Museum Geologi Kedepannya

Pada area museum ini terdapat sebuah toko souvenir dan kafe yang cukup besar. Tetapi tampak penggunaannya belum maksimal walaupun banyak pengunjung yang datang untuk membeli beberapa kenang-kenangan. Apalagi disekitar lokasi museum banyak sekali terdapat pedagang kaki lima (PKL) yang datang, khususnya ketika sedang banyak rombongan yang mengunjungi museum. Terkadang keberadaan para PKL tersebut mengganggu kenyamanan museum, sehingga tak jarang satpam museum datang dan memberi pemberitahuan kepada para PKL tersebut. Walaupun begitu para pedagang tersebut juga mempunyai kesadaran dan tidak sepenuhnya “bandel” jika telah diberitahu oleh pihak keamanan museum.

Untuk pengamanan gedung Museum Geologi sendiri mempunyai satpam yang bertugas selama dua puluh empat jam siap siaga karena beberapa koleksi-koleksi yang ada di museum ini merupakan barang-barang langka dan berharga. Tetapi kadang-kadang polisi pariwisata datang dan ikut membantu dalam mengawasi keamanan Museum Geologi.

Antusiasme yang besar ini ditanggapi baik oleh pihak museum. Rencananya Museum Geologi ini akan dikembangkan lagi untuk meningkatkan kualitas. Lantai atas gedung ini rencananya akan kembali dibenahi dan dikembangkan agar lebih menarik minat masyarakat untuk datang berkunjung. Menurut lulusan UPW Politeknik Bandung ini, di lantai dua gedung museum akan di tambahkan ruang untuk pameran pengaplikasian kerja geologi, seperti misalnya pencarian fosil. Maket-maket akan diperbanyak guna membantu pengunjung untuk memahami dengan jelas. Tetapi sayangnya belum ada kepastian yang jelas sehubungan dengan pengembangan museum untuk kedepannya. Semoga saja pengembangan Museum Geologi dilakukan secepatnya agar semakin berkualitas dan semakin memuaskan para pengunjungnya. (farra–In depth Reporting)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: